Beranda > Cerita Hidupku > Kampung Halamanku (KEDIRI) #2 Gunung Kelud

Kampung Halamanku (KEDIRI) #2 Gunung Kelud

hmm… tak terasa sudah lama saya tidak meneruskan tulisan saya tentang KEDIRI ^_^

lanjut dari tulisan saya part1 kemarin, yang ketiga yang ingin saya perkenalkan adalah GUNUNG KELUD. Mungkin sudah banyak yang kenal dan mendengar nama itu, dan sudah banyak pula yang pernah mengunjungi Gunung tersebut. Lalu kenapa  saya mengambil Objek ini untuk saya ceritakan di Kampung Halamanku (KEDIRI) #2 ini? Yang pertama alasan saya adalah, karena di sini terdapat sejarah yang sangat menarik, setelah saya berbincang dengan bapak saya dan beliau menceritakan sejarah Gunung Kelud tersebut. Alasan yang kedua adalah, saya hendak mengikuti lomba yang diadakan blogger Ngalam, alias blogger Malang. Info lomba tersebut saya ketahui dari twitter blogger Malang yang bisa difollow di @bloggerngalam atau bisa dilihat di blog blogger Malang di sini.Langsung saja pada pokok pembicaraan :D

Gunung Kelud yang terletak di di wilayah Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. tepatnya berada di perbatasan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar, kira-kira 27 km sebelah timur pusat Kota Kediri. Gunung ini termasuk gunung berapi yang masih aktif dengan ketinggian kira-kira 1.791 meter dari permukaan laut. Gunung Kelud termasuk Gunung Api tipe strato dengan danau kawah yang tingginya 1113,9 meter. Gunung ini tercatat pernah meletus sebanyak 24 kali. Gunung Kelud sudah menjadi salah satu objek wisata yang ternama di Indonesia. Gunung Kelud yang terletak di perbatasan Kota Kediri dan Blitar ini sudah menjadi fenomena gunung berbahaya sejak abad ke 15 sekitar tahun 1586, letusan Gunung ini melenyapkan 10.000 jiwa lebih nyawa manusia. Tak hanya saat itu, letusan lahar dingin tahun 1919 juga melenyapkan lagi ribuan nyawa penduduk di sekitar Gunung tersebut. Akhirnya pada tahun 1926 telah diupayakan pembuatan sistem aliran lahar, hingga saat ini saluran tersebut masih bertahan. Dari catatan ahli Gunung Api, tercatat bahwa Gunung Kelud mempunyai potensi meletus 15 tahunan. Hal itu disimpulkan dari pola meletus Gunung Kelud memang berjarak kurang lebih 15 tahunan. Aktivitas tinggi Gunung Kelud terakhir adalah pada tahun 2007.

Dan pada akhir tahun tersebut muncullah kubah lava di tengah kawah setelah terjadinya gempa kecil tapi cukup kuat untuk merusakkan deteksi suhu ahli Gunung Api, karena hal itu dideteksi akan terjadi letusan, tapi karena adanya kubah lava tersebut letusan tidak terjadi. Penampilan Gunung Kelud setelah adanya kubah lava di tengahnya ini mungkin tak semenarik dulu saat ada kawah hijau yang indah. Tapi kubah tersebut telah menghambat keluarnya letusan yang mungkin bisa saja melenyapkan kediri. Nah, ini saatnya saya bercerita tentang sejarah Gunung Kelud yang saya dengar dari bapak saya.

Dahulu ada seorang putri cantik yang bernama Dewi Kilisuci, dia adalah putri dari Jenggolo Manik Raja Kediri. Karena kecantikan putri tersebut tidak sedikit kesatria jatuh hati dan ingin mempersunting Dewi Kilisuci. Ternyata kecantikan itu juga menyentuh hati dua orang raja meski dilihat dari fisiknya bukanlah raja manusia biasa. Kedua raja itu berkepala lembu masing-masing bernama Raja Lembu Sura dan Mahesa Sura. Mereka dimabuk kepayang akhirnya menyatakn keinginannya untuk menyunting Dewi Kilisuci untuk dijadikan istrinya. Bagi putri Jenggolo Manik itu tentu sulit untuk menolaknya, namun untuk menyatakan secara langsung penolakannya, dia tidak punya cara yang tepat agar tidak terjadi tumpah darah karena kuasa 2 Raja ini juga sangat kuat. Akhirnya muncul ide sebagai upaya untuk menolak cinta keduanya. Dibuatlah sayembara yang kalau dipikir tidak masuk akal, karena permintaan sang dewi itu tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa. Yakni, membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan satu lagi wangi. Kedua sumur itu harus diselesaikan hanya dalam waktu satu malam, selesai sebelum ayam berkokok. Namun karena Lembu Sura dan Mahesa Sura sangat sakti, permintaan Dewi Kilisuci itu bisa diselesaikan dengan baik dan cepat. Belum puas atas hasil itu, Dewi Kilisuci kembali membuat sayembara. Kedua raja itu harus membuktikan dahulu bahwa kedua sumur tersebut benar-benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke dalam sumur. Karena keduanya dimabuk kepayang, tanpa memperdulikan risikonya maka permintaan itu pun dilaksanakan juga meski sumur yang dibuat itu sangat dalam. Tidak disangka, di saat keduanya sudah berada di dalam sumurnya masing-masing, Dewi Kilisuci memerintahkan pada perajurit-perajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu agar keduanya mati. Namun sebelum Lembu Sura meninggal, dia melontarkan sumpahnya yang isinya merupakan luapan sakit hati dan balas dendam yang ditujukan pada masyarakat Kediri. “Yoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung”. (hai orang-orang Kediri, suatu saat nanti akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi daerah perairan dalam). Akhirnya untuk menangkal sumpah itu hingga kini masyarakat Kediri secara rutin menyelenggarakan selamatan berupa “larung sesaji” sebagai upaya menolak sial agar warga Kediri selalu selamat. Hingga kini acara selamatan Larung Sesaji masih terus berjalan yang digelar setahun sekali setiap tanggal 23 bulan Sura, yang diselenggarakn oleh masyarakat Desa Sugih Waras.

Itulah singkat cerita, sebuah legenda 2 raja yang dimabuk kepayang hanya karena kecantikannya saja tanpa memikirkan resiko yang ditanggung setelah melakukan segala macam hal yang diperintahkan oleh putri cantik tersebut. Dari legenda tersebut mungkin dapat dijadikan sebuah peringatan bagi kaum laki-laki agar tidak mudah terlena dengan kecantikan wanita, juga jangan memaksakan cinta. Jika wanita tersebut tidak memberikan signal positif jangan terus menyiksanya dengan pendekatan yang berlangsung terus menerus tanpa henti, itu malah bisa membuat wanita tersebut takut dan bisa saja melakukan hal seperti yang dilakukan oleh Dewi Kilisuci.

Sekilas tentang legenda dan hikmah yang dapat di ambil. Sekarang saatnya pembaca tau keelokan dari Gunung Kelud. Ada terowongan yang konon dibangun oleh Jepang untuk aliran lahar sekitar tahun 1950an. Yang biasanya saat “larung sesaji” lorong ini diberi lilin-lilin oleh masyarakat untuk melaksanakan selamatan tersebut.

Nah, itu singkat cerita yang saya tau dari Gunung Kelud. Mohon komentarnya ya ^_^

Categories: Cerita Hidupku
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.